Tak ku beri judul

“Cinta itu harus disyukuri dan dirayakan,” kataku. Dan kamu terdiam seperti mengencani setiap nafasku, kau tersenyum lalu mempersempit lingkar lenganmu, mendekatkan tubuhmu dengan punggungku, menyandarkan pipi kirimu di bahu kananku, ada debar yang tak biasa bertalu dihatiku. Dan Arlita,ingatkah kamu kencan kita adalah pertemuan-pertemuan biasa: warung bakso, toko buku, pertunjukan musik, makan malam di pinggir jalan. Sampai hari ini aku tak kehilangan debar itu; rasa rindu yang tak habis-habis menghadirkan setiap jengkal bayangmu di malam-malamku.”

Sepenggal mutiara di sebuah cerita : Cerita tentang tukang cerita yang datang dari masa depan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: