Surat untuk Bunda

“ini bukan kisah yang sering kuceritkan dalam buku harianku, entah apa yg membuat ia pergi lagi dari rumah, apa karena alasan tanggung jawab ataukah hanya mencari jati diri, atau mungkin hanya ingin lebih dekat dengan rumah Tuhan”

 

 

 

 

 

 

 

Kenapa? Kenapa bunda mengambil jalan keluar yang sulit? Bukankah kita pernah sepakat dalam urusan ini, semua akan bunda ceritakan malahnya sehingga kami dapat membatumu mengatasinya? aku bukan anak kecil seperti dulu, ataukah bunda mengannggapku anak kecil yang selalu bunda timang-timang saat aku manangis, gelisah dan sakit saat ku kecil,

Entah… (jawab ibu)… bunda tak pernah menangis dihadapanku selama ini, terkecuali sering ku pergoki beliau saat solat malam seraya menengadah tangan dengan sesegukan seperti anak kecil meminta pelukan Tuhan. Sering kali bunda selalu mengatakan “kita tak boleh merasa sendiri di dunia ini, masih banyak berkah yang Allah curahkan setiap hari, belajarlah selalu bersyukur menerima keadaan diri, dan tunggu petunjuk Allah selanjutnya setelah kamu pasrahkan dalam Doa”.

Kalimat bunda masih selalu ku dengung-dengungkan hingga sekarang bersama Dzikir dalam fikirku,  Bunda… Anakmu ini memang tak cukup dewasa menyikapi hidup masih sering kubayangkan bunda mengusap rambutku saat sebelum kutidur di depan TV kecil di ruang tengah.

Kuharap bunda disana menunaikan kewajiban istri dan lebih dekat dengan Ilahi.. kutunggu doamu setiap 5 waktu, ku harap tanganku tak cukup menampung puluhan ribu ampunanmu untukku. Anankmu,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: